PENGALAMAN DIRI SENDIRI

Pada suatu hari, ketika saya masih duduk di bangku kelas 3 SMA saya ingin pergi dengan seorang teman dekat saya berinisial FF. saya ingin pergi bersamanya karena ingin menonton sebuah film. Saat itu saya ingin sekali menontonnya karena teman-teman saya sudah menontonnya dan menurut mereka film tersebut menarik.
Sepulang sekolah, saya ingin meminta izin kepada ibu saya. Tetapi ketika saya hendak meminta izin, ibu saya langsung menyuruh saya membantunya memasak di dapur. Ibu pasti melarang saya pergi jika dia tahu tujuan saya adalah untuk bersenang-senang. Akhirnya saya memutuskan untuk berbohong kepada ibu saya hanya untuk dapat pergi menonton.
Saya beralasan tidak mau membantu ibu karena saya harus mengikuti kerja kelompok di rumah teman. Pada awalnya ibu tidak mempercayai alasan saya, namun pada akhirnya beliau pun mengizinkan saya pergi.
Saya pun berangkat dengan rasa takut, cemas dan bersalah karena telah berbohong kepada ibu, hingga akhirnya saya bertemu dengan teman saya dan akhirny kami pun berangkat ke bioskop dengan sepeda motor, saya di bonceng oleh nya. 15 menit perjalanan pun berlalu, pada saat itu suasana jalan cukup lengang namun jalanan agak basah karena habis di guyur hujan. Teman saya pun menambah kecepatan motornya. Karena jalanan yang sangat licin, teman saya tidak dapat menguasai motornya dan akhirnya kamipun terpeleset dan terjatuh dari motor.
Alhamdulillah saya dan teman saya tidak mengalami luka yang cukup parah, hanya luka disiku saja. Sejak saat itu saya merasa bersalah karena telah berbohong kepada ibu saya dan akhirnya saya meminta maaf kepada beliau.

Inspirasi yang dapat saya ambil adalah untuk tidak berbohong kepada orang tua karena nantinya akan mendapatkan akibatnya.

PENGALAMAN ORANG LAIN

Saya mempunyai seorang teman berinisial SF. Dia adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Ayahnya bekerja di luar pulau Jawa sedangkan ibu dan ketiga adiknya tinggal di Pati, Jawa Tengah. Dia sendiri tinggal di Jakarta bersama tantenya sejak berumur 5 tahun.
Di rumah tantenya dia harus belajar mandiri sejak kecil, dia selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan usahanya sendiri, dia tidak mau meminta kepada orang tuanya karenadia tak ingin merepotkan mereka. Berbagai cara ia lakukan untuk memenuhi kebutuhannya seperti mengajar les, berjualan barang-barang, hingga menjual pulsa.
Sampai pada suatu saat ketika saya dan teman-teman lain disibukkan dengan kegiatan membeli baju lebaran, dia justru lebih memilih untuk membelikan baju untuk ketiga adiknya dengan uang hasil jerih payahnya sendiri daripada membeli baju untuk dirinya sendiri. Intensitas pertemuan dia dan ibunya jarang sekali. Mereka hanya dapat bertemu ketika liburan sekolah, oleh karena itu dia selalu iri dengan kami yang masih dapat bertemu dengan keluarga kami setiap hari.
Hanya satu keinginannya, masuk ke sebuah universitas negeri dan menjadi seorang guru matematika. Namun untuk menempuhnya dia tak ingin selalu merepotkan orangtuanya. Dia ingin berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhannya dengan hasil keringat sendiri.

Inspirasi yang dapat saya ambil dari cerita ini adalah, saya sebagai anak pertama harus dapat mencontoh dia, anak yang mandiri, tidak selalu bergantung dengan orangtua dan mengutamakan saudara daripada diri sendiri. Saya harus dapat menghilanhkan sifat egois saya dan saya harus dapat menjadi contoh yang baik bagi adik-adik saya.